February 26, 2024

Tim Henson adalah salah satu gitaris paling inovatif dan berbakat di dunia saat ini. Ia dikenal sebagai anggota dari band instrumental Polyphia, yang menggabungkan elemen-elemen dari rock, metal, jazz, hip-hop, dan musik elektronik dalam komposisi-komposisi yang kompleks dan melodis. Tim Henson tidak hanya memiliki teknik yang luar biasa, tetapi juga memiliki gaya yang unik dan kreatif dalam menciptakan riff-riff dan solo-solo yang menantang dan memukau.

Namun, bagaimana sebenarnya sejarah gitaris Tim Henson? Bagaimana ia mulai belajar gitar dan apa saja pengaruh-pengaruh yang membentuk musikalitasnya? Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang sejarah gitaris Tim Henson yang mungkin belum Anda ketahui.

Awal Mula Belajar Gitar
Tim Henson mulai belajar gitar saat ia berusia 10 tahun. Ayahnya adalah seorang gitaris yang sering bermain dengan band-band lokal, dan ia memberikan gitar pertama kepada Tim Henson sebagai hadiah ulang tahun. Tim Henson mengaku bahwa ia tidak tertarik dengan gitar pada awalnya, tetapi setelah melihat film-film seperti School of Rock dan Tenacious D in The Pick of Destiny yang dibintangi oleh Jack Black, ia merasa terinspirasi untuk menjadi seorang rockstar.

Tim Henson pun mulai berlatih dengan tekun dan serius, dengan niat untuk menjadi gitaris terbaik di dunia. Ia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mempelajari lagu-lagu dari band-band favoritnya, seperti Metallica, Avenged Sevenfold, Bullet for My Valentine, dan lain-lain. Ia juga menonton film Crossroads, yang menampilkan duel gitar antara Steve Vai dan Ralph Macchio, dan bercita-cita untuk bisa bermain seperti Steve Vai.

Pengalaman Bermain di Band Ibadah
Salah satu pengalaman pertama Tim Henson dalam bermain gitar secara live adalah di band ibadah gereja. Ia mengatakan bahwa ia sering diminta untuk mengisi bagian solo gitar di lagu-lagu pujian, dan ia senang melakukannya karena merasa bebas untuk bereksperimen dengan nada-nada dan teknik-teknik yang berbeda. Ia juga belajar banyak tentang harmoni, ritme, dan dinamika dari bermain di band ibadah.

Tim Henson mengaku bahwa pengalaman bermain di band ibadah sangat membantu perkembangan musikalitasnya, terutama dalam hal menciptakan melodi-melodi yang indah dan menyentuh. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak pernah merasa terbatas oleh genre atau label musik tertentu, karena ia selalu mencoba untuk mengekspresikan dirinya sendiri melalui gitar.

Pembentukan Polyphia
Polyphia adalah band instrumental yang dibentuk oleh Tim Henson bersama dengan teman-temannya Scott LePage (gitar), Clay Gober (bass), dan Clay Aeschliman (drum) pada tahun 2010. Nama Polyphia berasal dari kata “polyphony”, yang berarti suara-suara yang berbeda namun harmonis. Band ini awalnya bernama The Worst of Us, tetapi kemudian berganti nama menjadi Polyphia setelah merilis EP pertama mereka yang berjudul Inspire pada tahun 2013.

Perkembangan Musikal Polyphia
Polyphia merilis album pertama mereka yang berjudul Muse pada tahun 2014, yang mendapatkan respons positif dari kritikus dan penggemar musik. Album ini menampilkan berbagai kolaborasi dengan gitaris-gitaris ternama, seperti Aaron Marshall dari Intervals, Nick Johnston, Jason Richardson dari Chelsea Grin, Jakub Zytecki dari Disperse, Nick Sampson dari I Am Abomination, dan Mario Camarena dan Erick Hansel dari CHON.

Album ini juga menunjukkan perkembangan musikal Polyphia, yang mulai menggabungkan elemen-elemen dari hip-hop, R&B, dan musik elektronik ke dalam musik instrumental mereka. Tim Henson mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh produser-produser seperti Timbaland, Pharrell Williams, dan Kanye West, yang mampu menciptakan musik yang catchy dan berbeda dari yang lain.

Polyphia kemudian merilis album kedua mereka yang berjudul Renaissance pada tahun 2016, yang melanjutkan eksplorasi mereka dalam mencampurkan genre-genre musik yang beragam. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan musisi-musisi seperti Jason Richardson kembali, Misha Mansoor dari Periphery, Scott Henderson, Rick Graham, dan Yvette Young dari Covet.

Pada tahun 2018, Polyphia merilis album ketiga mereka yang berjudul New Levels New Devils, yang menjadi album paling sukses mereka hingga saat ini. Album ini debut di nomor 61 di Billboard 200 dan nomor 1 di Billboard Independent Album. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan musisi-musisi seperti Ichika Nito, Mateus Asato, Y2K, Cuco, Lewis Grant, Clay Gober (mantan bassis Polyphia), dan Mario Camarena dan Erick Hansel dari CHON lagi.

Album ini juga menampilkan pengaruh-pengaruh dari trap music, EDM, dan pop music ke dalam musik instrumental Polyphia. Tim Henson mengatakan bahwa ia ingin membuat musik yang bisa dinikmati oleh semua orang, tidak hanya oleh gitaris atau pecinta musik instrumental. Ia juga mengatakan bahwa ia ingin membuat musik yang bisa membuat orang-orang bergoyang dan bersenang-senang.

Kesuksesan dan Pengakuan Tim Henson
Tim Henson telah membuktikan dirinya sebagai salah satu gitaris paling berbakat dan inovatif di dunia saat ini. Ia telah mendapatkan banyak penghargaan dan pengakuan dari media-media musik maupun gitaris-gitaris terkenal. Beberapa di antaranya adalah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *